Doa Qunut dalam Sholat
A. PENGERTIAN QUNUT
Kata qunut berasal dari kata bahasa arab “قنت – يقنت –قنوتا “ yang artinya ta’at atau tunduk atau patuh, hal itu sejalan dengan firman Allah :
Artinya:
“Dan barangsiapa diantaramu sekalian (istri-istri Nabi) tetap ta’at
kepada Allah dan rasul-Nya dan mengerjakan amal shalih, niscaya kami
memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan kami sediakan baginya
rizqi yang mulia”.QS. Al-Ahzab: 31
Firman Allah:
“Hai Maryam, ta’atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ ”(Ali Imron : 43)
Firman Allah:
“Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, lagi patuh
kepada Allah dan konsekwen dan sekali-kali bukan termasuk orang-orang
yang mempersekutukanAllah” (An-Nahl: 120)
Lafadh
“qunut” secara bahasa juga diartikan berdiri lama baik dalam shalat
atau dslsm berdo’a. juga diartikan lama dalam perang dan lama dalam
ibadah haji.
Lama
berdiri dalam melakukan shalat, maksudnya adalah shalat dilakukan
dengan khusu’ dan tuma’ninah, tidak terburu-buru. Itulah maksud qunut
menurut bahasa seperti tersebut dalam Hadits “Sebaik-baik shalat adalah
yang tidak terburu-buru” (Mu’jam al-Wasith II/761)
Lafadh
qunut dalam segi bahasa yang berarti patuh atau ta’at atau tunduk
disebutkan dalam sejumlah ayat al-Qur’an diantaranya : {Surat
Al-Ahzab:31 dan 35. Surat An-Nahl: 120. Surat Ali Imron: 17. Surat
At-Tahrim: 12 dan Surat Al-Baqarah:116}.
“Peliharalah
segala shalatmu dan peliharalah shalat wustha. Berdirilah karena Allah
dalam shalatmu dengan khusyu’ ” (Al-Baqarah : 238)
Adapun qunut menurut syara’ adalah berdiri lama membaca do’a qunut dalam shalat. {Mu’jam Al-Wasith II/671}
Anas bin Malik ra, berkata:
أنّه صلّى الله عليه وسلّم رفع يديه فى القنوت. رواه البيهقى (سنن البيهقي ج 2 ص 211)
B. MACAM – MACAM QUNUT
Dalam
syari’at islam ada tiga qunut, semuanya dilakukan Nabi SAW, dan
dianjurkan melakukannya pada waktu dan posisinya masing-masing. Ketiga
macam qunut tersebut adalah :
1. Qunut Subuh
Qunut
subuh adalah membaca do’a qunut yang dianjurkan membacanya setelah
bangun dari ruku’ raka’at terakhir shalat subuh. Namun terdapat
perbedaan diantara ulama’ tentang hukuma membaca do’a qunut dalam shalat
subuh.
Madzhab Hanafi
Ulama’
madzhab hanafi berpendapat bahwa hanya dianjurkan membaca do’a qunut
pada shalat witir saja dan tidak dianjurkan membaca do’a qunut pada
shalat subuh, selain qunut nazilah dalam shalat jahriyah {bacaan keras}.
Menurutnya, bila imam membaca do’a qunut dan makmumnya memilih tidak
qunut dalam shalat subuh, sebaiknya makmum diam mendengarkan bacaan
qunut imam. Juga dikatakan oleh ulama’ senior madzhab hanafi yaitu
Muhammad. Sedangkan Abu Yusuf yang juga ulama’ senior madzhab hanafi
mengatakan, bila imam membaca qunut dalam shalat subuh dan makmum
memilih tidak qunut, makmum dianjurkan mengikuti qunut imam, karena
makmum wajib mengikuti imam. {Al-Badai’ I/273. Al-Lubab I/78. Fathu
Al-Qadir I/303. Ad-Durru Al-Muhtar I/626-628}.
Pendapat
ini menilai bahwa qunut subuh telah ditinggalkan oleh Nabi SAW sesuai
hadits Ibnu Mas’ud ra, yang menerangkan bahwa Nabi SAW qunut selama satu
bulan kemudian beliau meninggalkannya.
شيبة والطحاوي (نصب الراية ج 2 ص 127)
Dari
Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: Bahwa Nabi SAW, membaca do’a qunut dalam
shalat subuh selama satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. HR.
Al-Bazzar, Thabarani, Ibn Syaibah dan Thahawi. {Nasbu al-Rayah II/128}
Namun
yang dimaksud qunut yang ditinggalkan Nabi SAW adalah qunut nazilah,
bukan qunut subuh, sesuai pendapat yang rojih. Hadits lain yang juga
mereka pakai alasan bahwa qunut subuh telah di nasakh (hapus) adalah
sejumlah hadits berikut.
عن
مالك الآشجعى رضي الله عنه قال : أنّ أباه صلّى خلف رسول الله صلّى الله
عليه وسلّم وأبى بكر وعمر وعثمان وعليّ، فلم يقنت واحد منهم. رواه أحمد
والترمذي وصححه وابن ماجة (نيل ألوطار ج 2 ص 133 والفقه الإسلامي وأدلّته ج 1 ص 810)
Dari
Malik al- Asyja’I ra ia berkata: Bahwa ayahnya shalat bermakmum
dibelakang Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra, tidak
seorangpun diantara mereka yang membaca qunut. HR. Ahmad dan Tirmidzi
dan di tashih Ibnu Majah. {Nailul Authar II/133 dan al-Fiqh al-Islamy
wa-adillatuhu I/810}
عن أنس ابن مالك رضي الله عنه قال : أنّ النّبي صلّى الله عليه وسلّم قنت شهرا ثمّ تركه . رواه أحمد (الفقه الإسلامي وأدلّته ج 1 ص 810 ونيل الأوطار ج 2 ص 123 )
Anas
ibn Malik ra, ia berkata: Adalah Nabi SAW qunut selama satu bulan
kemudian beliau tinggalkan. HR. Ahmad {Al-Fiqh al-Islamy wa-adillatuhu
I/810 dan Nailul Authar II/123}
عن أنس رضي الله عنه قال: كان القنوت فى المغرب والفجر. رواه البخارى (الفقه الإسلامي وأدلّته ج 1 ص 180 ونيل الأوطار ج 2 ص123)
Anas
bin Malik ra, ia berkata: Adalah qunut itu pada shalat maghrib dan
shalat subuh. HR. Bukhari. {al-Fiqh al-Islamy wa-adillatuhu I/180 dan
Nailul Authar II/123}
Sejumlah
hadits tersebut menerangkan tentang qunut nazilah dan bukan qunut
subuh. Anjuran membaca qunut dalam shalat subuh terdapat hadits yang
menerangkannya, bukan hadits di atas. Nabi SAW qunut nazilah selama satu
bulan kemudian beliau tinggalkan, setelah mendapat teguran dari Allah.
Nabi SAW juga qunut nazilah pada setiap waktu termasuk dalam shalat
subuh dan maghrib seperti disebutkan dalam hadits diatas. Hadits berikut
ini menguatkan bahwa yang ditinggalkan Nabi SAW adalah qunut nazilah
bukan qunut subuh. Nabi SAW meninggalkan qunut nazilah setelah mendapat
teguran dari Allah, seperti disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah
ra, ia berkata:
عن
أبي هريرة رضي الله عنه قال : كان النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم يقول حين
يفرغ من صلاة الفجر من القراءة ويكبّر ويرفع رأسه "سمع الله لمن حمده ربّنا
ولك الحمد" ثمّ يقول وهو قائم : اللّهمّ انج الوليد ابن الوليد، وسلمة ابن
هشام وعياش ابن ربيعة، والمستضعفين من المسلمين والمؤمنين : اللّهمّ اشدد
وطأتك على مضرّ واجعل عليهم كسني يوسف. اللّهمّ العن لحيان ورعلان وذكوان
وعصيّة عصت الله ورسوله" ثمّ بلغنا أنّه ترك ذلك لمّا نزل قوله تعالى "ليس
لك من الأمر شيئ أو يتوب عليهم أو يعذّبهم فإنّهم ظالمون" رواه مسلم (صحيح
مسلم ج 5 ص 176-177)
Dari
Abu Hurairah ra, ia berkata: “Adalah Nabi SAW berdo’a ketika selesai
membaca ayat al-qur’an dan takbir serta bangun dari ruku’ membaca
“sami’allahu liman hamidah” pada shalat subuh kemudian membaca do’a
sambil berdiri “Ya Allah bebaskanlah Al-Walid bin Walid dan Salamah bin
Hisyam, Ilyas ibnu Abi Rab’iah dan orang-orang yang lemah dari kaum
muslimin. Ya Allah berikanlah hukuman yang berat kepada Mudhar,
jadikanlah tahun mereka seperti tahun-tahun Nabi Yusuf. Ya Allah
laknatlah Lihyan, Ri’lan, Dzakwan dan Ushaiyyah yang telah durhaka
kepada Allah dan rasul-Nya”. Kemudian sampai kepada kami berita yang
mengatakan bahwa Nabi SAW telah meninggalkan qunut nazilah setelah turun
surat {Ali imran:128} “Tidak ada hak bagimu Muhammad dalam urusan
mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka atau menghukumnya, karena
sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang dhalim” HR. Muslim
{Shahih Muslim IV/176-177}
Berdasarkan
hadits tersebut, sangat jelas bahwa qunut yang ditinggalkan Nabi SAW
yang pernah dilakukan selama satu bulandalam sejumlah waktu shalat,
termasuk dalam shalat subuh, kemudian beliau tinggalkan adalah qunut
nazilah bukan qunut subuh. Qunut subuh tidak dinaskh (dihapus) dengan
hadits manapun dan hukumnya sunnah.
Madzhab Maliky
Ulama’
madzhab Maliky berpendapat bahwa sunnah qunut pada shalat subuh dan
makruh membaca qunut selain qunut pada shalat subuh. {Al-Syarhu
al-Shagir I/331. Al-Syarhu al-Kabir I/248 dan al-Qawanin al-Fiqhiyyah
hal. 61}. Do’a qunut yang dipilih oleh Imam Malik yaitu do’a qunut Ibnu
Umar yaitu:
اللّهمّ
إنّا نستعينك ونستهديك ونستغفرك ونتوب إليك، ونؤمن بك ونتوكّل عليك، ونثنى
عليك الخير كلّه، نشكرك و نكفّرك ونخلع ونترك من يفجرك، اللّهمّ إيّاك
نعبد ولك نصلّى ونسجد وإليك نسعى ونحفد، نرجو رحمتك ونخشى عذابك، إنّ عذابك
الجدّ بالكفّار ملحق.
Bacaan qunut tersebut berdasarkan hadits dari Khalid Ibn Abi Imran ra.
عن
خالد بن أبى عمران رضي الله عنه قال : "بينما رسول الله صلّى الله عليه
وسلّم يدعو على مضر، إذجاءه جبريل، فأومأ إليه أن اسكت فسكت، فقال : يا
محمّد، إنّ الله لم يبعثك سبّابا ولا لعّانا، وإنّما بعثك رحمة للعالمين،
ليس لك من الأمر شيئ، ثمّ علّمه القنوت : اللّهمّ إنّا نستعينك ..." أخرجه
أبو داود فى المراسيل (نصب الراية ج 2 ص 135)
Khalid
ibn Abu Imran ra, ia berkata: Pada saat Nabi SAW berdo’a untuk Mudhar,
tiba-tiba datang Malaikat Jibril,maka beliau memberi isyarah pada saya
agar diam, maka diam.Malaikat Jibril berkata: “Muhammad SAW, Allah SWT
tidak mengutusmu sebagai orang pencaci dan pelaknat, namun Allah
mengutusmu sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta, tidak ada hak
bagimu sedikitpun tentang hal itu, kemudian diajarkan membaca do’a qunut
“Allaahumma innaa nasta’iinuka....” HR. Abu Dawud dalam al-Marasil.
{Hadits ini shahih, lafadznya mauquf, tetapi hukumnya marfu’.
Diriwayatkan Abu Dawud dalam al-Marasil XIII/184. Al-Baihaqy dalam
as-Sunan al-Kubra II/210 dari jalan Abu Wahab dari Mu’awiyah bin Shalih
dari Abdul Qahir, dari Khalid bin Abi Imran dan lihat Nasbu al-Royah juz
II/135 dan al-Fiqhu al-Islamy wa-adillatuhu I/811}
Para
sahabat sepakat atas do’a qunut tersebut, maka lebih baik membacanya.
Boleh memilih do’a qunut lainnya dan boleh pula menggabungkannya.
{al-Fiqhu al-Islamy wa-adillatuhu juz I hal. 811}
Madzhab Syafi’i
Ulama’
madzhab syafi’i berpendapat bahwa sunnah membaca do’a qunut dalam
shalat subuh yaitu dilakukan setelah bangun dari ruku’ raka’at yang
terakhir. Imam Syafi’i berpendapat qunut subuh sunnah muakkadah karena
Nabi SAW mengerjakannya setiap shalat subuh sepanjang hayatnya. Maka
bila lupa tidak qunut dianjurkan sujud syahwi. {Mughni al-Muhtaj I/166.
Al-Majmuk Syarh al-Muhadzab II/490. Al-Muhadzab I/81. Hasyiyah
al-Bajuriy I/168}
Do’a
yang dipilih Imam Syafi’i adalah do’a qunut yang masyhur yang biasa
dibaca Nabi Muhammad SAW, dan para sahabatnya dalam shalat subuh dan
witir yaitu:
اللّهمّ
اهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولّني فيمن تولّيت، وبارك لي فيما
أعطيت، وقني شرّ ما قضيت، فإنّك تقضي ولا يقضى عليك، وإنّه لا يضلّ من
واليت، ولا يعزّ من عاديت، تباركت ربّنا وتعاليت، فلك الحمد على ما قضيت
أستغفرك وأتوب إليك، وصلّى الله على سيّدنا محمّد النبيّ الأميّ وعلى اله
وصحبه وسلّم.
Terdapat sejumlah dalil yang menerangkan dianjurkan membaca do’a qunut dalam shalat subuh diantaranya adalah:
Nabi SAW bila shalat subuh beliau mengangkat kedua tangan dan membaca do’a qunut “Allaahummahdinii fiman hadait……”
عن
أبي هريرة رضي الله عنه قال : كان رسول الله إذا رفع رأسه من الركوع من
صلاة الصبح في الرّكعة الثّانية رفع يديه فيدعو بهذا الدّعاء : اللّهمّ
اهدني فيمن هديت...."رواه الحاكم وقال : صحيح وزاد البيهقي فيه عبارة : فلك
الحمد على ما قضيت" رواه البيهقي عن ابن عباس (سبل السّلام ج 1 ص 187). وزاد البيهقي والطبراني "ولا يعزّ من عاديت" (سبل السّلام ج 1 ص 186)
Dari
Abu Hurairah ra, ia berkata: Adalah Nabi SAW bila bangun dari ruku’
dalam shalat subuh pada raka’at yang kedua beliau mengangkat kedua
tangannya dan membaca do’a qunut “Allaahummahdinii fiiman hadaiit....”
HR. Hakim dan berkata: hadits shahih dan ditambahkan dalam hadits
tersebut lanjutan do’a “Falakal hamdu ‘alaa maa qadlait..” HR. Baihaqi
dan Ibnu Abbas. {Subulus salam juz I/188} dan Imam Al-Baihaqi dan
Thabarani menambahkan: “Walaa yaizzu man ‘adait”. {Subulus salam I/186}
Nabi
SAW mengajarkan do’a qunut yang dibaca dalam qunut subuh sama dengan
qunut shalat witir yaitu “Allaahummahdinii fiiman hadait....” Sesuai
Hadits diceritakan al-Hasan bin Ali ra, ia berkata : Adalah Nabi SAW
mengajarkan padaku do’a yang dibaca pada qunut witir yaitu:
اللّهمّ
اهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولّني فيمن تولّيت، وبارك لي فيما
أعطيت، وقني شرّ ما قضيت، وإنّك تقضى ولا يقضى عليك ولا يضلّ من واليت
تباركت ربّنا وتعاليت. رواه الخمسة (سبل السّلام ج 1 ص 362)
“Ya
Allah berikanlah kami petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri
petunjuk. Sehatkan kami bersama orang-orang yang telah Engkau beri
kesehatan. Berilah kami pertolongan orang-orang yang telah Engkau beri
pertolongan. Berkatilah kami pada apa yang telah Engkau karuniakan
kepada kami. Jagalah diri kami dari kejahatan –kejahatan yang telah
Engkau tetapkan. Karena Engkaulah yang menetapkan dan tidak ada yang
menetapkan. Tidak akan terhina orang yang telah Engkau beri pertolongan.
Maha Mulia Engkau Wahai Tuhan Yang Maha Tinggi” HR. Khamsah.
Nabi
SAW tidak pernah meninggalkan membaca qunut pada setiap shalat subuh
hingga akhir hayatnya. Sesuai hadits Anas bin Malik ra.
عن
أنس ابن مالك رضي الله عنه قال : أنّ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قنت
شهرا يدعو عليهم ثمّ ترك فأمّا في الصبح فلم يزل يقنت حتّى فارق الدّنيا.
رواه البيهقي والدار قطني (المجموع ج 3 ص 504)
Anas
ibn Malik ra, berkata: Bahwa Nabi SAW qunut nazilah satu bulan penuh,
kemudian beliau tinggalkan qunut nazilah tersebut. Adapun qunut subuh
beliau tidak meninggalkannya sampai akhir hayatnya. HR. Baihaqy dan
Daruquthniy. {Hadits ini lemah, namun dapat dipakai hujjah karena
didukung hadits yang lain.
Madzhab Hambali
Ulama’
madzhab Hambali berpendapat seperti imam Abu Hanifah, bahwa dianjurkan
qunut dalam shalat witir saja dan tidak dianjurkan dalam shalat lainnya
selain qunut nazilah dalam shalat jahriiyah {bacaan keras} pada waktu
tertentu. Bila imam membaca qunut, makmum dianjurkan mengamininya sambil
mengangkat kedua tangannya, setelah selesai agar menyapukan kedua tapak
tangannya pada wajahnya. {Al-Mughni I/151-155. Kasy-Syaaf al-Qona’
I/490-494}
Pandangan ulama’ seputar qunut subuh
Terdapat sejumlah pandangan para ulama’ tentang hukum membaca do’a qunut dalam shalat subuh. Berikut pandangan mereka:
Dalam
kitab Al-Mahalliy disebutkan. Syaikh Jalaluddin al-Mahalliy mengatakan:
“Dan sunnah qunut pada i’tidal raka’at kedua pada shalat subuh membaca
“Allahummahdinii...” {Al-Mahalliy I/157}
Dalam
kitab Syarah Al-Muhadzab disebutkan imam Nawawi mengatakan: “Dan
termasuk sunnah Nabi SAW qunut pada shalat subuh pada raka’at kedua
berdasarkan hadits Anas ibnu Malik” {Al-Majmuk syarah al-Muhadzab
III/492}
Dalam
kitab I’anatut Thalibin Syaikh Syatha mengatakan: Dan sunnah qunut pada
shalat subuh, berdasarkan hadits shahih, bahwa Nabi SAW qunnut subuh
sampai akhir hayatnya. {I’anutut Thalibin I/158}
Dalam
kitab Al-Um juz I halaman 205 disebutkan: Imam Syafi’i mengatakan
“Tidak dianjurkan membaca do’a qunut selain pada shalat subuh, kecuali
qunut nazilah, bila terjadi bencana. Bila imam qunut, dianjurkan qunut
bila dikehendaki pada setiap shalat” {al-Um I/205}
Maksudnya
adalah bahwa qunut hanya dianjurkan pada shalat subuh, tidak pada
setiap shalat lima waktu, kecuali qunut nazilah maka dilakukan pada
setiap shalat lima waktu bila imam melakukannya.
Tersebut
dalam kitab Syarah al-Muhadzab juz II halaman 492, imam Nawawi
mengatakan: “Dan adalah termasuk sunnah Nabi SAW qunut pada shalat subuh
pada raka’at yang kedua berdasarkan pada hadits dari Anas bin Malik”
{al-Majmu’ III/492}
Dalam
kitab Al-Aziz syarah al-Wajiz disebutkan adalah al-Qasim Abdul karim
bin Muhammad al-Rafi’ mengatakan: sunnah hukumnya qunut pada shalat
subuh. {al- Aziz syarah al-Wajiz hal. 412}
Dalam kitab Bujairimi disebutkan “Yang sunnah muakkadah dalam shalat adalah Tasyahud Awal dan Qunut Subuh”. {al-Bujairimi II/44}
Dalam
kitab Nihayatuz Zain disebutkan: Syaikh Nawawi al- Banteniy
mengatakan: “Dan sesungguhnya sunnah qunut pada shalat subuh yaitu pada
i’tidal raka’at kedua, setelah membaca do’a yang biasa” {Nihayatuz-zain
hal. 66}
Pendapat sebagian kalangan
Terdapat
sebagian kalangan yang menilai bahwa membaca do’a qunut pada shalat
subuh bid’ah. Pendapat tersebut berdasarkan hadits palsu dari Thariq
salah seorang tabi’in atau yang dikenal dengan Sa’ad bin Thariq atau Abu
Malik al-Asyja’i.
عن
مالك الأشجعي رضي الله عنه قال : يا أبت إنّك قد صلّيت خلف النّبيّ صلّى
الله عليه وسلّم وأبي بكر وعمر وعثمان وعليّ ابن أبي طالب ههنا بالكوفة نحو
خمسين سنين، أكانوا يقنتون؟ فقال : أي بنيّ محدث. رواه أحمد والنسائي وابن
ماجة والترمذي وصححه في صحيحه ج 1 ص 192 وقال ابن العربي هذا حديث لم يصح (فقه السنة ج 2 ص 38)
Imam
Tirmidzi perawi hadits tersebut mengatakan: “Bahwa hadits itu lemah”.
Hadits lemah tidak dapat dipakai dalil, terlebih bila hadits tersebut
bertentangan dengan hadits shahih yang justru menganjurkan qunut subuh.
Hadits tersebut menerangkan semua qunut bid’ah.
Terdapat
pula hadits dari Anas bin Malik ra, yang menerangkan bahwa Nabi
Muhammad SAW tidak pernah membaca do’a qunut pada shalat subuh kecuali
qunut nazilah.
عن
أنس رضي الله عنه قال : أنّ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم كان لايقنت فى
صلاة الصبح إلاّ إذا دعا لقوم او دعا على قوم. رواه ابن حبان والخطيب وابن
خزيمة وصححه (فقه السنة ج 2 ص 38)
Namun
hadits tersebut bertolak belakang dengan sejumlah hadits shahih yang
menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAWmembaca qunut dalam shalat subuh baik
qunut nazilah dan qunut subuh seperti disebutkan dalam hadits diatas.
Imam
Abu Bakar bin Arabiy yang terkenal dengan nama Ibnu Al-Arabiy memberi
keterangan demikian: “Bahwa benar bahwa Nabi SAW qunut dalam shalat
subuh dan benar bahwa Nabi SAW qunut sebelum ruku’ atau sesudah ruku’
dan benar bahwa Nabi SAW qunut Nazilah dan begitupula para sahabat
melakukan qunut di Madinah, Sayyidina Umar mengatakan bahwa qunut sunnah
hukumnya, yang demikian ini sudah biasa dilakukan para sahabat di
Masjid Madinah”. {Shahih Tirmidzi I/192}
Terdapat hadits palsu yang juga dipakai alasan bagi yang mengatakan qunut subuh bid’ah yaitu:
أنّه صلّى الله عليه وسلّم : نهى عن القنوت فى الصبح. رواه البيهقى
Ulama’
ahli hadits sepakat bahwa hadits tersebut palsu. Hadits palsu tidak
dipakai hujjah. Dalam kitab Mizanu al-I’tidal disebutkan: “Dalam rawi
hadits ini terdapat orang yang bernama Muhammad bin Ya’la, Anbasah bin
Abdur rahman dan Abdullah bin Rafi’ Muhammad bin Ya’la adalah orang
Kufah. Imam Bukhari mengatakan ia adalah orang yang ditinggalkan oleh
ahli hadits {matruk}” {Mizan al-I’tidal IV/70}
Dalam
kitab Mizan al-I’tidal juz II hal. 422 disebutkan: “Abdullah bin Abu
Rafi’ adalah banyak meriwayatkan hadits palsu dan hadits mursal serta
munkar” {Mizan al-I’tidal II/422}
Imam
Daruquthniy mengatakan: “Muhammad bin Ya’la, Anbasah bin Abdurrahman
dan Abdullah bin Rafi’ perawi hadits tersebut adalah orang-orang yang
lemah dan riwayatnya tidak dapat dipercaya”.
2. Qunut Witir
Qunut
Witir adalah membaca do’a qunut pada raka’at terakhir setelah bangun
dari ruku’ dalam shalat witir Ramadhan yang dimulai pada pertengahan
malam bulan suci Ramadhan yaitu tanggal 15 Qamariyah hingga akhir bulan
Ramadhan. Membaca do’a qunut selain disunnahkan dalam shalat subuh juga
dalam shalat witir Ramadhan. Namun terdapat sedikit perbedaan pendapat
dikalangan ulama’ tentang hukum qunut dalam shalat witir.
Madzhab Maliki
Ulama’
madzhab Maliki berpendapat bahwa dianjurkan membaca do’a qunut hanya
dalam shalat subuh saja dan tidak dianjurkan dalam shalat witir dan
shalat lainnya. Menurutnya makruh membaca do’a qunut dalam shalat witir.
{al-Syarhu al-Kabir I/248 dan al-Qowanin al-Fiqhiyah hal. 61}
Jumhur Ulama’
Mayoritas
ulama’ diantaranya ulama’ Syafi’iya, Hanafiyah, dan Hanabilah
berpendapat bahwa qunut witir sunnah hukumnya. {Al-Badai’ I/273.
Al-Lubab I/78. Fathu al-Qadir I/309. Ad-Durru al-Muhtar I/626-628.
Mughni al-Muhtaj I/166. Al-Majmu’ syarah al-Muhadzab II/474-490.
Al-Muhadzab I/81. Hasyiyah al-Bajuriy I/168}. Namun meraka berbeda
pendapat dalam memilih do’a yang dibaca dalam qunut I/168}. Namun
meraka berbeda pendapat dalam memilih do’a yang dibaca dalam qunut
witir, yaitu:
Imam Abu Hanifah
Do’a
qunut yang dibaca dalam qunut witir menurut Imam Abu Hanifah adalah
do’a qunut tersebut dalam hadits yang diceritakan oleh Khalid ibn Abi
Imran ra, yaitu:
اللّهمّ
إنّا نستعينك ونستهديك ونستغفرك ونتوب إليك، ونؤمن بك ونتوكّل عليك، ونثنى
عليك الخير كلّه، نشكرك و نكفّرك ونخلع ونترك من يفجرك، اللّهمّ إيّاك
نعبد ولك نصلّى ونسجد وإليك نسعى ونحفد، نرجو رحمتك ونخشى عذابك، إنّ عذابك
الجدّ بالكفّار ملحق.
Bacaan qunut tersebut berdasarkan hadits dari Khalid Ibn Abi Imran ra.
عن
خالد بن أبى عمران رضي الله عنه قال : "بينما رسول الله صلّى الله عليه
وسلّم يدعو على مضر، إذجاءه جبريل، فأومأ إليه أن اسكت فسكت، فقال : يا
محمّد، إنّ الله لم يبعثك سبّابا ولا لعّانا، وإنّما بعثك رحمة للعالمين،
ليس لك من الأمر شيئ، ثمّ علّمه القنوت : اللّهمّ إنّا نستعينك ..." أخرجه
أبو داود فى المراسيل (نصب الراية ج 2 ص 135 والفقه الإسلامى وأدلّته ج 1 ص 811)
Imam Ahmad ibn Hambal
Do’a
qunut witir menurut madzhab Hambali adalah sama dengan do’a qunut yang
dibaca dalam qunut shalat subuh. Dibaca dengan suara keras. Makmum
dianjurkan mengamini dan mengangkat kedua tangan kemudian menyapu muka
setelah selesai do’a. Sesuai hadits Saib ra.
عن
السّائب بن يزيد عن أبيه رضي الله عنه قال : أنّ النّبيّ صلّى الله عليه
وسلّم كان إذا دعا رفع يديه ومسح بهما وجهه. رواه أبو داود فى سننه ج 2 ص 1492 وأحمد فى مسنده ج 4 ص221 والطبراني فى الكبير ج 22 ص241 عن قتيبة ابن سعد عن ابن لهيعة عن حفص ابن هشام هبن عتبة هبن أبى وقاص عن السائب هبن يزيد عن أبيه.
Diceritakan dari al-Sa’ib ibn Yazid dari ayahnya ia berkata: Bahwa Nabi
SAW berdo’a sambil mengangkat kedua tangannya dan menyapu muka
setelahnya HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Thabarani. {Sunan Abu Dawud
II/1492. Musnad Ahmad IV/221. Al-Kabir XXII/241}
عن
ابن عبّاس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : إذا
دعوت الله فادع بباطن كفّيك ولا تدع بظهورهما فإذا فرغت فامسح بهما وجهك.
رواه ابن ماجة فى سننه ج 1 ص 1181 وعبد ابن حميد فى المنتخب ج 1 ص236 والحاكم فى المستدرك ج 1 ص 719 والطبراني فىى المجموع الكبير ج 10 ص 10779 عن صالح ابن حسن الأنصاري عن محمد ابن كعب القرضي عن ابن عباس رضي الله عنهما.
Diceritakan
dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Nabi SAW bersabda: Bila kamu berdo’a
maka berdo’alah sambil menadahkan tapak tanganmu dan jangan kamu berdo’a
sambil membalik tanganmu, maka bila kamu selesai berdo’a sapukanlah
kedua tapak tanganmu pada wajahmu. HR. Ibnu Majah, Abdubnu Humaid, Hakim
dan Thabarani {Sunan Ibnu Majah I/1181. Al-Muntakhab I/236.
Al-Mustadrak I/719. Al-Majmuk al-Kabir X/10779}
Imam
Ahmad ibn Hambal memilih do’a yang dibaca pada qunut witir adalah
“Allaahummahdinii fiiman hadait....” sesuai hadits yang diceritakan
al-Hasan bin Ali ra, ia berkata: Adalah Nabi SAW mengajarkan kepadaku
do’a yang dibaca pada qunut witir yaitu:
اللّهمّ
اهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولّني فيمن تولّيت، وبارك لي فيما
أعطيت، وقني شرّ ما قضيت، وإنّك تقضى ولا يقضى عليك ولا يضلّ من واليت
تباركت ربّنا وتعاليت. رواه النسائي وابن ماجة وابو داود والترمذي وأحمد
والدارمي والحاكم والبيهقي (صحيح الترمذي ج 1 ص 144 وصحيح ابن ماجة ج 1 ص 194 وسبل السّلام ج 1 ص 362 )
Madzhab Syafi’i
Imam
Syafi’i mengatakan bahwa sunnah membaca do’a qunut dalam shalat witir
yaitu dimulai dari pertengahan malam bulan suci Ramadhan {tanggal 15
Ramadhan}. Sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud
dan Baihaqi:
أنّ
أبي ابن كعب رضي الله عنه كان يقنت فى النّصف الأخير من رمضان حين يصلّي
التّراويح. قال عنه الحنابلة فيه انقطاع (الفقه الإسلامي وأدلّته ج 1 ص 827)
“Sesungguhnya Ubay ibn Ka’ab ra, adalah membaca do’a qunut pada
pertengahan akhir bulan Ramadhan ketika shalat tarawih”. Al-Hanabilah
mengatakan rawi hadits itu ada yang terputus. {Al-Fiqh al-Islami
wa-adillatuhu juz I/827}
Adapun
do’a qunut yang dibaca dalam qunut witir menurut Imam Syafi’i adalah
sama dengan do’a qunut dalam shalat subuh. Menurutnya dalam pendapat
yang rajih boleh ditambahkan setelahnya do’a yang dipilih Imam Abu
Hanifah. Do’a qunut yang dipilih oleh Imam Syafi’i dan Ulama’ Syafi’iyah
adalah do’a qunut yang masyhur , yaitu:
اللّهمّ
اهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولّني فيمن تولّيت، وبارك لي فيما
أعطيت، وقني شرّ ما قضيت، فإنّك تقضي ولا يقضى عليك، وإنّه لا يضلّ من
واليت، ولا يعزّ من عاديت، تباركت ربّنا وتعاليت، فلك الحمد على ما قضيت
أستغفرك وأتوب إليك، وصلّى الله على سيّدنا محمّد النبيّ الأميّ وعلى اله
وصحبه وسلّم.
Do’a
qunut yang dibaca dalam qunut witir sama dengan do’a qunut yang dibaca
dalam qunut subuh tersebut berdasarkan sejumlah hadits shahih
diantaranya.
عن
أبي هريرة رضي الله عنه قال : كان رسول الله إذا رفع رأسه من الركوع من
صلاة الصبح في الرّكعة الثّانية رفع يديه فيدعو بهذا الدّعاء : اللّهمّ
اهدني فيمن هديت...."رواه الحاكم وقال : صحيح وزاد البيهقي فيه عبارة : فلك
الحمد على ما قضيت" رواه البيهقي عن ابن عباس (سبل السّلام ج 1 ص 187). وزاد البيهقي والطبراني "ولا يعزّ من عاديت" (سبل السّلام ج 1 ص 186)
Dan hadits dari Ibnu Abbas ra, diceritakan.
عن
ابن عبّاس رضي الله عنهما قال : كان النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم يقنت فى
صلاة الصّبح وفى الوتر بهؤلاء كلمات : اللّهمّ اهدني فيمن هديت إلى آخره.
رواه البيهقي (سنن البيهقي ج 2 ص 210)
Dari
Ibnu Abbas ra, ia berkata: Adalah Nabi SAW qunut pada shalat subuh dan
pada witir Ramadhan dengan do’a ini “ Allahummahdini fiiman hadait” HR.
Baihaqi. {Sunan Baihaqi II/210}
Terdapat
sejumlah hadits lain yang menerangkan dianjurkannya qunut witir
Ramadhan dalam sejumlah hadits shahih diantaranya hadits dari Umar ibnu
Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab dan
para sahabat lainnya. {Nasbu al-Rayah II/123}
3. Qunut Nazilah
Qunut
nazilah adalah membaca do’a qunut pada sejumlah sahalat fardlu
{jahriyah} pada raka’at terakhir setelah ruku’ sebelum sujud seperti
dalam qunut subuh dan qunut witir Ramadhan. Qunut nazilah dianjurkan
bila terjadi musibah menimpa kaum muslimin, seperti pembantaian kaum
muslimin dan sejenisnya. Para ulama’ berbeda pendapat tentang hukum
qunut nazilah.
Madzhab Syafi’i
و
قال الشافعية : يسن أن يقنت للشدائد فى جميع أوقات الصلاة و يجهر فيه
الامام و المنفرد , و تسن فيه الجماعة فى شهر رمضان , و القنوت فى الركعة
الأخيرة منه فى النصف الثانى من ذلك الشهر , كما يسن القنوت بعد الرفع من
ركوع الثانية فى الصبح كل يوم
Artinya:
"Dan telah berkata madzhab Imam Syafi'i: Disunnahkan qunut (qunut nazilah) karena adanya perkara-perkara yang bersifat berat (misalnya turunnya bencana) di dalam semua waktu shalat. Imam dan munfarid (orang yang shalat sendirian) membaca dengan suara keras di dalam qunut itu. Begitupula disunnahkan berjama'ah membaca qunut di bulan suci Ramadhan. Adapun bacaan qunut itu di raka'at akhir pada setengah kedua dari bulan suci Ramadhan, sebagaimana disunnahkan membaca qunut setelah bangun dari ruku' kedua di dalam shalat shubuh pada setiap hari".
"Dan telah berkata madzhab Imam Syafi'i: Disunnahkan qunut (qunut nazilah) karena adanya perkara-perkara yang bersifat berat (misalnya turunnya bencana) di dalam semua waktu shalat. Imam dan munfarid (orang yang shalat sendirian) membaca dengan suara keras di dalam qunut itu. Begitupula disunnahkan berjama'ah membaca qunut di bulan suci Ramadhan. Adapun bacaan qunut itu di raka'at akhir pada setengah kedua dari bulan suci Ramadhan, sebagaimana disunnahkan membaca qunut setelah bangun dari ruku' kedua di dalam shalat shubuh pada setiap hari".
Madzhab Maliki
Ulama’madzhab
Maliki berpendapat bahwa sunnah membaca do’a qunut hanya dalam shalat
subuh saja dan tidak dianjurkan dalam shalat lainnya. Makruh hukumnya
membaca do’a qunut pada shalat witir dan nazilah. {al-Syarhu al-Shaghir
I/331. Al-Syarhu al-Kabir I/248 dan al-Qawanin al-Fiqhiyyah hal. 61}
Jumhur Ulama’
Mayoritas
ulama’ yaitu Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat:
Dianjurkan membaca do’a qunut nazilah bila terjadi musibah besar yang
menimpa ummat Islam. Anjuran qunut nazilah tersebut tidak secara mutlak,
namun hanya bila terjadi musibah besar yang menimpa ummat islam. Qunut
nazilah dilakukan pada setiap shalat fardlu dengan bacaan keras dan
diamini makmum. Nabi SAW qunut nazilah selama satu bulan terkait musibah
besar yang menimpa ummat islam, kemudian beliau tinggalkan setelah
mendapat teguran dari Allah. {al-Lubab I/79. Hasyiyah al-Bajuriy I/168.
Al-Mughniy I/155. Kasy-Syaf al-Qona’ I/494. Al-Muhadzab I/82.al-Majmuk
III/486}
Do’a Yang Dibaca
Do’a
yang dibaca dalam qunut nazilah seperti do’a yang diriwayatkan dari
Umar ra. Boleh juga ditambahkan do’a yang lain sesuai kondisinya.
اللّهمّ
اغفر للمؤمنين والمؤمنات، والمسلمين والمسلمات، والّف بين قلوبهم، وأصلح
ذات بينهم، وانصرهم على عدوّك وعدوّهم، اللّهمّ العن كفرة أهل ألكتاب
الّذين يكذبون رسلك، ويقاتلون أولياءك، اللّهمّ خالف بين كلمتهم، وزلزل
أقدامهم، وأنزل بهم بأسك الّذى لايردّ عن القوم المجرمين. بسم الله الرّحمن
الرّحيم، اللّهمّ إنّا نستعينك.
Dalil dianjurkannya Qunut Nazilah
Nabi
SAW pernah melakukan qunut nazilah selama satu bulan untuk minta
keselamatan bagi ummat islam dan melaknat kaum kafir yang berbuat aniaya
terhadap ummat islam, yaitu Ri’lan, Dzakwan, Lihyan, Ushayah dan
sejumlah orang kafir lainnya. Setelah mendapat teguran dari Allah dengan
turunnya surat Ali Imran: 128 beliau meninggalkannya. Yaitu Firman
Allah.
ليس لك من الأمر شيئ او يتوب عليهم او يعذّبهم فإنّهم ظالمون (ال عمران : 128)
“Tidak
ada sedikit campurtanganmu Muhammad dalam urusan mereka, atau Allah
menerima taubat mereka atau menghukumnya, karena sesungguhnya mereka itu
orang-orang yang dhalim” {Ali Imran: 128}
Terdapat dalil dianjurkannya qunut nazilah diantaranya adalah:
عن
أنس ابن مالك رضي الله عنه قال : أنّ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قنت
شهرا يدعو عليهم ثمّ ترك فأمّا في الصبح فلم يزل يقنت حتّى فارق الدّنيا.
رواه البيهقي والدار قطني (المجموع ج 3 ص 504)
عن أنس رضي الله عنه قال: كان القنوت فى المغرب والفجر. رواه البخارى (صحيح البخاري ج 1 ص 127)
عن
أبي هريرة رضي الله عنه قال : لأقربنّ صلاة النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم
فكان أبوهريرة يقنت فى الركعة الأخرة من صلاة الظّهر وصلاة العشاء وصلاة
الصّبح بعد ما يقول "سمع الله لمن حمده" فيدعو للمؤمنين ويلعن الكفّار.
رواه البخاري (صحيح البخاري ج 1 ص 104)
Abu
Hurairah ra, berkata: “Bahwa cara shalat saya sama seperti cara shalat
Nabi SAW adalah Abu Hurairah ra, qunut nazilah pada raka’at akhir dalam
shalat dhuhur, pada shalat isya’ juga pada shalat subuh, setelah
membaca: “Sami’allahu liman hamidah” beliau berdo’a untuk orang mukmin
dan melaknat orang-orang kafir” HR. Bukhari {Shahih Bukhari I/104}
عن
أبي هريرة رضي الله عنه قال : كان النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم يقول حين
يفرغ من صلاة الفجر من القراءة ويكبّر ويرفع رأسه "سمع الله لمن حمده ربّنا
ولك الحمد" ثمّ يقول وهو قائم : اللّهمّ انج الوليد ابن الوليد، وسلمة ابن
هشام وعياش ابن ربيعة، والمستضعفين من المسلمين والمؤمنين : اللّهمّ اشدد
وطأتك على مضرّ واجعل عليهم كسني يوسف. اللّهمّ العن لحيان ورعلان وذكوان
وعصيّة عصت الله ورسوله" ثمّ بلغنا أنّه ترك ذلك لمّا نزل قوله تعالى "ليس
لك من الأمر شيئ أو يتوب عليهم أو يعذّبهم فإنّهم ظالمون" رواه مسلم (صحيح
مسلم ج 5 ص 176-177)
Dari
Abu Hurairah ra, ia berkata: “Adalah Nabi SAW berdo’a ketika selesai
membaca ayat al-qur’an dan takbir serta bangun dari ruku’ membaca
“sami’allahu liman hamidah” pada shalat subuh kemudian membaca do’a
sambil berdiri “Ya Allah bebaskanlah Al-Walid bin Walid dan Salamah bin
Hisyam, Ilyas ibnu Abi Rab’iah dan orang-orang yang lemah dari kaum
muslimin. Ya Allah berikanlah hukuman yang berat kepada Mudhar,
jadikanlah tahun mereka seperti tahun-tahun Nabi Yusuf. Ya Allah
laknatlah Lihyan, Ri’lan, Dzakwan dan Ushaiyyah yang telah durhaka
kepada Allah dan rasul-Nya”. Kemudian sampai kepada kami berita yang
mengatakan bahwa Nabi SAW telah meninggalkan qunut nazilah setelah turun
surat {Ali imran:128} “Tidak ada hak bagimu Muhammad dalam urusan
mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka atau menghukumnya, karena
sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang dhalim” HR. Muslim
{Shahih Muslim IV/176-177}




0 komentar:
Posting Komentar